Headlines News :
Home » » SILSILAH KETURUNAN PONGKA PADANG DI MAMASA

SILSILAH KETURUNAN PONGKA PADANG DI MAMASA

Written By Stepanus W B on Senin, 04 November 2013 | 07.36

KETURUNAN PONGKA PADANG YANG MENDIAMI PITU ULUNNA SALU KARUA TIPARITTI’NA UAI/KARUA BA’BANA MINANGA (PUS-KTU) DI BAWAH KEKUASAAN TABULAHAN.

Turunan Pongka Padang mendiami Tanah Toraja Mamasa yang kini lasim disebut Pitu Ulunna Salu, karua tiparitti'na uai. Pada mulanya tanah ini bukan di namai demikian, melainkan dinamai: Lita'na to pitu di ulunna Salu artinya tanah dari 7 orang yang ada di hulu sungai (7 orang anak Pongka Padang).

Yang mula-mula berjalan keliling memberi batas akan tanah ini, yakni seorang anak dari Pongka Padang yang bernama Pullao Mesa. Kemudian berangkat pula Daeng Manganna dan Mana Pahodo untuk memberi nama pada daerah setempat.

Seorang dari pada mereka itu memakai tongkat dahan kayu cendana yang masih mentah. Setelah tiba di daerah (bagian Mandar) tongkat kayu Cendana itu ditanam lalu tumbuh. Oleh sebab itu daerah tersebut diberi nama Kampung Cendana.

Lita'na to pitu diulunna salu kemudian diberi nama: Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai yang artinya 7 hulu sungai, dan 8 anak (muara) sungai. Kata itu suatu kiasan adanya.

Pitu Ulunna Salu artinya tujuh kekuasaan. Sebab pada mulanya Tabulahan mempunyai kuasa pada 7 negeri: Nama ketujuh kekuasaan itu yaitu:
1. Aralle
2. Mambie
3. Bambang
4. Rantebulahan
5. Matanga
6. Tu'bi
7. Tabang (Tandung)

Pada tiap-tiap daerah itu ada keharusannya.
Karua tiparitti'na uai artinya delapan daerah kekuasaan yang kecil, yang mempunyai kuasa atau keharusan agak kurang di banding ke 7 negeri yang mula-mula disebut).
Nama kedelapan daerah kekuasaan itu ialah:
1. Mesawa
2. Ulumanda'
3. Sondoan (Keang)
4. Panetean
5. Mamasa
6. Osango
7. Orobua
8. Tawalian
Delapan daerah kekuasaan itu masing-masing mempunyai kuasa atau keharusannya.

Tabulahan adalah penguasa atau tanah yang merdeka. Gelar atau nama Tabulahan adalah:
a. Petaha mana', pebita' pahandangan
b. Petoe saku', peanti kadinge' pedekeng kahatuang.
c. Indona Lita'
d. Tomepaihanna Pitu ulunna salu, karua tiparitti'na uai.

Yang artinya:
a) Pembagi warisan dalam pusaka bahkan batasan tanah yang sudah diberikan masing-masing, penentu/pembicara/pemutus dalam acara-acara perkawinan.
b) Pemegang ibadat untuk Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai supaya selamanya keberkatan. Tetapi kalau di antaranya ada yang berbuat kejahatan, maka orang itu harus datang di Tabulahan supaya diberkati pula dengan memakai “saku' kadinge' dan kahatuang” supaya kembali baik (tahir) pula dipandang Allah Taala. Dalam bahasa tua mengatakan: “Ladisaku'i, ladikadinge’i sala anna malai titanan punti, tiasak kahatuan illalan botto lita'na sule”.
c) Ibu/tuan Tanah/ pemilik tanah dari Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai.
d) Pemepegang pemali-pemali/(Pendoa syafaat) untuk penduduk PUS dan karua tiparitti'na uai supaya mereka selalu dalam keadaan yang aman dan sentosa.

IV. GELAR-GELAR DAN TANGGUNG JAWAB DAERAH-DAERAH DI PITU ULUNNA SALU KARUA TIPARITTI’NA UAI.
A. GELAR DAN TANGGUNG JAWAB DAERAH-DAERAH PUS:
1. Aralle
Digelar:
a. Indona ba'bana lembang, toma'kadanna to Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai.
b. Todipa'ulua dimana'
(Artinya a).Indona Aralle menerima/mendengar segala pembicaraan-pembicaraan penduduk dalam Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai lalu pembicaran itu dibawanya datang di Tabulahan supaya diurusnya/diselesaikan. Dan bagaimana keputusan urusan itu, Indona Aralle menyampaikannya pula pada kepala-kepala hadat di Pitu Ulunna Salu yang bersangkutan. b) yang pertama-tama mendapat pembagian warisan)

2. Mambi
Digelar:
a. Indona Lantang kada nenek
b. Lempoh kuring, paya kandeang
Artinya :
a. Di Mambie, tempat bertemunya/berkumpulnya kepala-kepala hadat Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai untuk membicarakan “katibangunganna lita', kamahosonganna ma'rupa tau” (pembangunan dan kesejahteraan umat/masyarakat), atau membicarakan perkara-kara yang lain yang patut dibicarakan dalam pertemuan kepala-kepala hadat. Segala pembicaraan itu atau segala keputusannya, harus disampaikan pada Indona lita' (Tabulahan) supaya dimohonkan berkat atas pembicaraan itu, supaya hasil pembicaraan itu mendatangkan bahagia/terealisasi.
b. Tanggungan indona Mambie yaitu melayani (menjamin/memberi makan) kepala-kepala hadat dalam pertemuannya selama mereka bersidang/ma’limbo.

3. Bambang
Digelar:
a. Sangkiran tinting, pandaga lappa-lappa
b. Su' buang ada’
Artinya:
a. sebagai penungguh tali yang menghubungkan satu negeri pada negeri yang lain. Yaitu kalau ada yang membuat satu kejahatan yang akan merusakkan tanah Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai maka Indona Bambang mulai mengajar mereka menurut undang-undang hadat.
b. Dan juga Indona Bambang adalah tempat menyimpan sementara orang yang melanggar adat.

4. Rantebulahan
Digelar:
a. Indona lembang Tomakakanna lita'.
Artinya orang yang dipandang kaya dalam Pitu Ulunna Salu. Sebab ia diwajibkan akan membayar denda setiap orang yang mendapat denda karena perbuatannya melanggar aturan adat, supaya ada perdamaian kembali.
b. Juga digelar Toma' dua Taking toma' tallu sulekka untetenge kondo sapata. Artinya diberi hak akan menjaga keamanan; dan memperdamaikan orang yang berselisi dengan memberi hadiah selaku upahnya supaya perselisihan kedua pihak hilang.

5. Matanga
Digelar:
Adiri Tatempong , tamba Tammalate artinya Tiang yang terkuat, yang akan menyokong jatuh dan bangunnya penduduk Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai.

6. Mala'bo
Digelar:
a. Tandu' kalua' palasang marosong, artinya ialah selaku dinding temboknya Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai bila ada bangsa lain yang akan merusakkan tanah ini (Hulu balang).

7. Tabang
Digelar:
a. Baka disura, gandang diroma.
b.Talaunna kada nenek bubunganna kada tomatua
Artinya:
a. Baka disura gandang diroma itu selaku pusakanya saja.
b. Talaunna kada nenek, bubunganna kada tomatua artinya pembatas ketujuh kekuasaan negeri yang sama kuasa.

B. GELAR DAN KEHARUSAN NEGERI-NEGERI YANG DI BERI NAMA KARUA TIPARITTI'NA UAI (KTU)(KARUA BA’BANA MINANGA(8 MUARA SUNGAI) YAITU:

1. Mesawa
Digelar:
“Talinga rarana to Pitu ulunna salu, mata bulawanna karua tiparitti'na uai”. Artinya: mata-mata bagi barangsiapa yang hendak masuk Pitu ulunna salu karua tiparitti'na uai dengan maksud jahat. Jika ada, dengan segera memberi kabar atau laporan kepada Indona Mala'bo', supaya ia dapat bersedia dengan selengkapnya.

2. Ulu Manda':
Digelar:
Sulluhanna kada nene balatana'na Kondo Sapata. Artinya: Batas tanah penduduk Pitu Ulunna Salu Karua Tiparitti'na Uai.

3. Sondoan
Digelar:
sama dengan gelaran Ulumanda'.

4. Panetean
Digelar:
Tampa'na Tabulahan artinya batas tanah Tabulahan dan Aralle.

5. Mamasa
Digelar:
a. Rambu saratu
b. Limbong kalua, tasik malolanganna Indona Tabulahan. Artinya:
a). banyak tanggungan-tanggungan atau perjanjian-perjanjian yang dipertanggungkan Indona Tabulahan kepada Indona Mamasa. b) Tanah yang seluas itu (lembang Mamasa) dapatlah dimasuki Indona Tabulahan dengan meminta sembarang apa saja menurut perjanjiannya umpama: Beras padi dll., supaya penduduk di tanah itu selamat dalam kediamannya.)

6. Osango
Digelar:
a. Tomataianna Totumandongi'na Indona Tabulahan tana lembanna Mamasa, artinya penjaga kesetiaannya Indona Mamasa pada tanggungan-tanggungan yang sudah ditanggungnya
b.Tokkeran Sepu' artinya tempat menyimpan tanda-tanda peringatan perjanjian-perjanjian bagi Lembah Mamasa.

7. Orobua:
Digelar:
a. Tomengkalambun bakaru, artinya Lembah Mamasa sudah di duduki atau di huni, baru datang Indona Orobua yang bernama “Pasa'buan.”
b. Dan juga diberi hak untuk datang menjual daun enau dan daun paku lalu ditukar dengan padi oleh penduduk Mamasa, karena babinya telah dipotong waktu pembukaan sepu' (=jimat)di Osango.

8. Tawalian
Digelar:
asal nama dari “Tawali” artinya tak sempat lagi diberi haknya, melainkan disamakan saja dengan Indona Mamasa, Tawalian juga biasa disebut Indona sesena Padang.
Mereka ini berasal dari Passokkoran bahagian Balanipa. Neneknya bernama Pottoni' Punda'da' Puppenda, Ponggasa'.
Pottoni' di Tawalian Ponggasa' di Buntu buda (Mamasa).

V. ATURAN ATAU UNDANG-UNDANG DI DAERAH PITU ULUNNA SALU KARUA TIPARITTI’NA UAI

Adapun aturan atau undang-undang pada masa itu dinamai: “Pappuli tedong, pallottong karambau” yaitu pada masa nenek Daeng Manganna dan semua saudaranya sampai pada nenek Dettumanan dan saudara-saudaranya. Waktu itu boleh dikata, tanah ini aman, jarang terjadi pembunuhan, pencurian dll. “Pappuli tedong, pallottong karambau maksudnya”: mata ganti mata, gigi ganti gigi: (band. Mat 5:38) ( Pappuli=pallottong=baku ganti sama banyak, sama harga; Tedong=karambau=kerbau.)
Beberapa lama kemudian dari pada itu, datanglah dan diizinkanlah to Mampu' yang berasal dari Tandalangan untuk tinggal di Rantebulahan.
Sekali peristiwa terjadilah pembunuhan disana (Mambie, Rantebulahan). Menurut undang-undang bahwa sipembunuh harus dibunuh juga.
Beruntung sebab pada waktu itu Tomampu' membuat satu
permintaan kepada yang berwajib di Tanah ini, ia minta
supaya undang-undang pappuli tedong pallottong karambau
diganti dengan undang-undang yang lain.
Tomampu' berkata:
a. "Dikondo terong, ditampa bulahang", (Kerbau diperbaiki/diurut, emas dibentuk)
b. "Dibatta bihti' tau, tahpa dibihti'terong", (kaki orang dipotong, tapi kaki kerbau yang kena)
c. "Dibatta bihti'terong, tahpa dibihti' bahi",(kaki kerbau yang dipotong, tapi kaki babi yang kena)
d. "Dihenge' punno, disahihi la'bi". (dipikul yang penuh, dijinjin lebihnya)

Maksudnya:
a. "Yang baik diganti dengan yang lebih baik",
b."Dilempar batu dibalas dengan kapas",
d. "Wajiblah ditebus dengan cukup/ ditebus saja sudah cukup".

Dengan aturan barunya ini Tomampu' menjelaskan kepada yang kaum/ semua orang bahwa undang-undang yang diberikannya itu lebih baik dari pada yang dulu; Misalnya ada seorang yang dibunuh. Maka keluarga dari pada orang yang dibunuh itu harus bersabar, jangan main hakim sendiri, tetapi serahkanlah kepada hadat untuk diselesaikan dengan baik.
sekitar seminggu yang lalu · Laporkan
*
Apolos Äto' Achpa
sambungan...

V. SEJARAH DAN LATAR BELAKANG "MAMASA"

Adapun Mamasa asal atau pada mulanya dinamai Mamase, artinya sungai yang berpengasih. Tanah ini kepunyaan Tabulahan.
Pada suatu waktu datanglah seorang lelaki bersama isterinya, bernama Guali Padang anak dari Sahalima di Koa (Tabang).
Mereka tinggal di Salu Kuse' dekat Rantebuda (Mamasa) dengan tidak diketahui nenek Dettumanan di Tabulahan.
Sekali waktu nenek Dettumanan pergi berburuh, akhirnya sampailah ke puncak gunung Mambulillin. Di sana tampaklah olehnya asap api di dekat sungai “Mamase” atau Mamasa di Salu Kuse. Nenek Dettumanan ini, dengan segera berjalan menujuh tempat itu. Sesampainya ia ke sana, maka didapatinya sebuah pondok yang didiami oleh Guali Padang bersama isterinya. Pada waktu itu Dettumanan sangat marah sekali pada mereka dan mereka diusir pulang kembali ke tempat kedua orangtuanya. Tetapi Guali Padang tidak mau pergi menuruti perintah Dettumanan, sehingga Dettumanan marah dan berkata: “Biarlah kamu tinggal di tempat ini, akan tetapi jangan kamu harap akan beroleh berkat pada tempat ini. Karena tempat yang kamu diami sekarang ini ialah tanah kepunyaanku. Terkutuklah kamu dari Allah Taala. Bahwa anakmu nanti akan menjadi makanan binatang buas, dan bila kamu menanam padi, nanti akan berubah menjadi alang-alang, jagung akan berubah menjadi pimping (tille), labu akan berubah menjadi seperti batu, ayammu nanti dimakan elang, babimu akan dimakan ular, kerbaumu nanti akan ditanduk anoa (tokata), dan lain-lain. Tala mentaruk tallangko tala ma'rombe' aho'” artinya bahwa turun-temurunmu tidak akan berkembang biak selama engkau menduduki tanah ini.
Setelah ia berkata demikian, pulanglah dengan marahnya.
Setelah beberapa bulan lamanya Guali Padang mendiami tempat itu, maka mengandunglah isterinya. Dan kemudian setelah beberapa bulan istrinya melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi ketika anak itu mulai bertambah besar, tiba-tiba datanglah seekor kuskus menerkam anak itu lalu dijinjitnya dan dibawah keatas pohon untuk dimakan. Pada intinya segala kutukan/perjanjian yang sudah dikatakan nenek Dettumanan semuanya terjadi.
Oleh Sebab itu Guali Padang serta isterinya tidak tahan lagi tinggal di tempat itu, lalu mereka pergi ke Tabang, tempat tinggal kedua orang tuanya, karena mereka bermaksud akan memberi tahukan semua hal itu kepadanya.
Setelah Guali Padang bersama istrinya sampai di Tabang dan bertemu dengan orang tuanya, maka diceritakannyalah semua hal yang telah mereka alami. Sehingga ayahnya membantu untuk menyelesaikan hal itu dengan jalan menyuruh anaknya(Guali Padang) untuk pergi berburuh, dan semua hasil buruannya, akan di berikan kepada nenek Dettumanan di Tabulahan. Tetapi sebelum dia berangkat, Ayahnya telah menyediakan dua “kapipe” jagung goreng yang sudah ditumbuk dicampur dengan daging kering. (kapipe =tempat membawah bekal pada waktu itu) Maksudnya supaya apabila sampai ke Tabulahan, Guali Padang tidak akan mau diberi makan oleh Dettumanan sebelum tanah Mamasa di berikan kepadanya untuk di duduki.
Lalu Guali Padang berangkat bersama dengan beberapa hambanya masuk hutan untuk berburuh. Setelah beberapa hari tinggal di dalam hutan dan mereka telah mendapat hasil yang memuaskan, maka berangkatlah mereka ke Tabulahan. Setibanya di Tabulahan, Nenek Dettumanan langsung mengenal siapa dan apa maksut mereka datang di Tabulahan. Oleh karena itu Dettumanan langsung berangkat ke kebunnya meninggalkan mereka itu.
Setiap kali isteri Dettumanan memberi makan pada mereka, Guali Padang dan pengikutnya tidak mau makan. Sehingga isteri Dettumanan sangat takut sebab ia berpikir jangan-jangan mereka mati kelaparan sebab tidak mau makan.
Istri Dettumanan lebih takut lagi sebab Guali Padang pura-pura sakit, dan membuat dirinya seakan-akan seperti orang yang sudah hampir mati.
Isteri nenek Dettumanan dengan segera berangkat ke kebunnya untuk memanggil suaminya dengan mengatakan padanya bahwa Guali Padang sudah hampir mati.
Maka pulanglah nenek Dettumanan bersama isterinya kemari. Sementara Guali Padang ini pura-pura dalam keadaan sakit payah.
Setelah Dettumanan mendapati Guali Padang, dia berkata kepadanya: “Biarlah engkau mati; dan kalau engkau mati, saya tak akan merasa rugi bila kupotongkan engkau sepuluh ekor kerbau, karena engkau amat kurang hadat, berani betul engkau mendiami tanah saya.”
Sementara Guali Padang ini mendapat marah, semakin ia
membuat dirinya sangat rendah hati sehingga Dettumanan berkata lagi kepadanya: “Kalau engkau mau dan ingin sungguh-sungguh akan mendiami tanah itu, maukah engkau akan menerima segala perjanjian-perjanjian yang akan kupertanggungkan atasmu?” Lalu Guali Padang menjawab katanya: “Biarpun ringan atau berat perjanjian itu, harus aku dan segala cucu-ciciku menjunjungnya, asalkan aku dapat mendiami tanah itu.
Dettumanan berkata lagi kepadanya: “Kalau begitu kamu pulang saja, dan nanti saya menyusul di belakang.”
Setelah beberapa hari antaranya, berangkatlah Dettumanan menyusul mereka.
Sesampainya ia ke sana, maka mulailah Dettumanan menguraikan perjanjian itu, yang bunyinya sebagai berikut:
1. Ungngakuraka dio ladikahoingko timbu uhai, lole'ingko pa'tondokan aku tanan puntio, kuose'pinamula?
1. Ungakuraka dio lakupepahe pahemu lakuehengngi lokomu anna kualai situhu' pangala inahangku?
2. Ungakuraka dio laumpadua lanta' dasammu; kulambi' peso'mu kalaiku ungkolai?
3. Ungakuraka dio tala matinna anna tala mailuo dialing inde'e di lita'ku anu' labinasa lita' pa'de ma'hupatau?
4. Ungakuraka dio ladikoko papuammu ladipuhhu tubulillimmu ladisahpa' sepi'mu?
Mentimba' Guali Padang naoatee: Pada pa'kuammu pada kutarimbo, anu'tae' garaganna malepong dia langi!!


Artinya:
1. Maukah engkau, saya akan mendirikan tempat kediamanmu, dan kusediakan satu mata air menjadi air minummu, supaya engkau dan isi rumahmu sampai kepada turun-temurunmu diibaratkan sebagai tanaman, dengan satu tuannya Tabulahan penjaganya?
2. Maukah engkau, bahwa padi yang sedang masak di sawah dan padi yang ada di lumbung aku ambil seturut kemauan hatiku bila aku datang?
3. Maukah engkau bahwa rumahmu harus berpetak dua (2 kamar), dan nasi yang sementara terjerang dalam belanga kuangkat dan kusendok sendiri untuk kumakan?
4. Maukah engkau bahwa tak boleh membuat satu keinginan yang akan merusakkan tanah ini dan menjatuhkan kaum yang berdiam di dalamnya?
5. Maukah engkau, bahwa segala kemauanku engkau turuti mulai dari yang besar sampai kepada yang kecil?
Jawab Guali Padang katanya: “Segala perjanjianmu saya terima, sebab tak ada lawannya keluasannya tanah ini bahkan kegemburannya. Luasnya adalah sebagai bentangan langit.”

Catatan dari Penulis alsi:
- Inilah yang dapat kami tuliskan dan mudah-mudahan dapat membantu para pembaca untuk mengetahui bagaimana sejarah, latar belakang dan adat istiadat, serta silsila yang berlaku di daerah kami “Tabulahan” sampai sekarang. Dan jika ada tulisan kami yang tidak sesuai menurut pembaca kami mohon maaf.
Catatan Penerjemah:
- Tulisan ini diterjemahkan langsung dari bahasa Tabulahan Asli/bahasa tua oleh : Apolos Ahpa (Pembantu Penerjemah Alkitab Berbahasa Tabulahan) bersama dengan Penerjemah Alkitab Bahasa Tabulahan dari New Zeland (Robin M’kenzie), tanggal 10-15 September 1997.
- Maaf karena sumber cerita ini sudah lama disimpan sehingga sumber/penulisnya tidak diketahui lagi, tapi arsip ini disimpan oleh Kel. Mangoli di Tabulahan, berdasarkan cerita turun-temurun dari nenek moyang kita.
- Tadipotimpu’ pano di peneneang ang ditula’ sanganna yaling inde di sejarah, ampo’ lamendahi kakende’anna hupatau peampoanna Nene’ Pongkapadang (Penyebutan nama-nama Nene’ Moyang kita dalam sejarah ini, tidak akan menjadi kutuk, melainkan akan menjadi berkat dan perkembangan anak cucu dari Nene’ Pongkapadang.)
- Mengenai Polopadang yang kemudian hari muncul sebagai teman seperjalanan/Pengawal dari Pongkapadang, bukan kel. Polopadang yang sekarang ini ada di Tabulahan, karena Kel. Polopadang yang sekarang ini berkembang di Tabulahan adalah Keturunan dari Pongkapadang( lihat silsilanya di atas).

Oleh: Apolos Äto' Achpa
Bagikan :

0 komentar :

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !



PASANG BANNER INI PADA BLOG ANDA

Copy Kode HTML di Bawah Ini

<a href="http://www.mamasaonline.com"><img border="0" src="http://pijarpustakamedia.com/mamasaonline480x320.gif" width="480" hight="320"/></a>

SAMBUTAN BUPATI MAMASA

Selamat dan sukses atas diluncurkannya portal berita www.mamasaonline.com semoga bisa menjadi media pemersatu dan sumber informasi serta media kontrol yang berimbang,obyektif serta inspiratif dalam rangka turut serta berperan aktif dalam upaya pembangunan Mamasa kedepan. Salam dari kami berdua, Ramlan Badawi dan Victor Paotonan (Bupati & Wakil Bupati Mamasa).

VIDEO

TWITTER

FB FANS PAGE

 
Support : Mamasa Online | Johny Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. mamasa online - All Rights Reserved
Template by Mamasa Online Published by Mamasa Online