Headlines News :
Home » » Sepenggal catatatan dari " Api Obor" Peringatan 100 Tahun Injil Masuk Mamasa

Sepenggal catatatan dari " Api Obor" Peringatan 100 Tahun Injil Masuk Mamasa

Written By Stepanus W B on Minggu, 03 November 2013 | 01.38

100 THN INJIL MASUK MAMASA (IMM) 

Api Obor 100 Thn Injil Masuk Mamasa
MAMASA -- AKU sangat yakin, bahwa kekuatan Injil akan mampu mengubah jalan hidup seseorang yg meyakininya. Akupun sangat yakin, dengan kekuatan Injil itu, bisa memberi damai sejahtera, sukacita dan kebahagiaan bagi siapa saja yg meyakininya. 
Dan akupun tau dari sejarah, bahwa nenek moyang kita di Mamasa telah terbebas dari kegelapan dan penyembahan berhala karena injil itu. Kita semua harus tau, bahwa melalui injil itulah, kita pertama kali mengenal dunia pendidikan dan saat itulah kita terbebas dari buta huruf. Karena Injil, kita bisa membaca dan menulis tentang injil dan melihat jalan kebenaran dan hidup. 

Itulah yg memantapkan hatiku bersama teman-teman perantau lainnya, membuat komitmen untuk menempuh perjalanan jauh dari ufuk Timur Papua dan daerah lain di Indonesia. Kami mempersiapkan diri untuk pergi jauh dan kembali ke Kota Kelahiran kami di Mamasa, hanya untuk menggenggam Obor peringatan 100 Tahun Injil Masuk Mamasa. Walau tubuh kami terasa lelah menempuh perjalanan jauh, dari Papua, Kendari, Bali, Balik Papan, dari Makassar ke Polewali dan tiba di Mamasa, tapi kami dapat merasakan kebahagiaan kebersamaan dan tetap bersemangat. 

Mungkin  mensyukuri injil bersama, telah menghapus rasa letih dan kelelahan kami. Kami pun bisa melawan rasa ngantuk akibat tdk tidur semalaman, menempuh perjalanan panjang dari Makassar ke Mamasa. 
Sore itu, saat kami tiba di kota Mamasa, seperti biasa ketika senja mulai menjemput malam, udara sejuk dan dingin sangat terasa menembus kulit. Itu salah satu khas Mamasa yg kami selalu rindukan sebagai perantau. Udara sejuk dan dingin menyambut kami dalam suasana sukacita. Memang salah satu jadwal Program Wisata Rohani yg kami harus ikuti, adalah pawai obor memperingati 100 tahun injil masuk Mamasa. Kamipun rombongan perantau yg tergabung dalam Grup Mamasa Community, hadir untuk merayakan injil masuk Mamasa. Salah satunya adalah ikut pawai obor. 
Selain  ikut pawai obor, kami juga ikut karnaval siang harinya, ibadah syukuran, dan menyumbang lagu pujian. Bukan hanya itu, wujud syukur para perantau, kami juga membawa Piala, Alkitab besar juga bantuan berupa uang tunai untuk Hadiah Juara Umum Lomba Memperingati 100 TIMM. Bantuan uang lainnya untuk pembangunan Gereja tua di Batang Uru Timur. 
Bantuan itu datang dari para perantau Mamasa yg dikumpulkan melalui rekening ucapan syukur Sanda Saratu' Mamasa Community, mensyukuri 100 Tahun Injil Masuk Mamasa. Setiba di kota Mamasa, kami sdh mempersiapkan obor untuk itu pawai obor. Malam itu ribuan warga Mamasa yang datang dari Jakarta, Kendari, Kolaka, Manado, Balik Papan, Papua, Tana Toraja dan seluruh klasis Gereja Toraja Mamasa di Sulbar, Pare-pare, Pinrang, Makassar dan Jakarta, seperti kami, juga ikut ambil bagian membawa obor injil. 
Pawai obor pun dimulai dari halaman Gereja Tawalian, gereja tertua di Mamasa yg dibangun para penginjil dari Belanda. Di tengah suasana ramainya manusia membawa obor injil peringatan seabad injil masuk Mamasa, saya bisa bersyukur kepada Tuhan, merasa bangga, bahagia dan campur haru, bisa berada di sana. Bersama ribuan org, aku ikut berbaur dan menggenggam obor injil malam itu, dan kamipun berjalan mengitari sejuknya kota dingin Mamasa sebelum finish dan mengikuti ibadah sakramen suci di Gereja Beatrix Pa'talongan. 
Walau kami hanya bisa menggenggam obor dan berdiri di pelataran gereja, suara pengkhotbah tentang kekuatan injil dapat kami dengar dengan jelas. Malam itu, sebelum pawai obor finish di gereja batu Pa'tolongan, sebahagian dari kami, membawa obor dengan mengendarai sepeda motor. Suara ribuan sepeda motor meraung-raung sepanjang jalan dari Tawalian dan keliling Kota Mamasa. Kepulan asap sepeda motor dan asap obor disertai teriakan histeris, membuat suasana semakin ramai dan membakar semangat para pembawa obor. Haleluya, Haleluya, Puji Tuhan, alam 100, salam injil." Begitulah teriakannya. Kami yg berjalan kakipun tak mau kalah. Kami ikut berbaur dan terus berteriak sekuatnya sambil melepas senyuman kebahagiaan dan terus menatap obor di tangan kami. Saya adalah salah satu saksi hidup dan salah satu diantara ribuan umat pembawa obor kemenangan, peringatan 100 thn injil di Mamasa. "Ini hanya sekali dalam hidup" papar Arianus Mandadung, Sekretaris Panitia 100 Thn IMM. 
Sambil menggenggam erat obor peringatan injil, kami terus berjalan beriringan, rangkaian panjang pembawa obor itu terus berteriak histeris, "haleluya, haleluya, haleluya, puji Tuhan, salam Injil, salam seratus tahun injil masuk Mamasa". Teriakan histeris itu membuat bulu kuduk saya merinding di sepanjang jalan. Ribuan penonton di sepanjang kiri-kanan jalan ikut histeris. Walau mereka tdk ikut pawai, tapi mereka juga tak mau ketinggalan ikut berteriak, tdk kalah histerisnya, seperti kami, mereka melambaikan tangan, menerikkan "salam 100, Puji Tuhan, Haleluya" itu teriakan mereka. 

Di rumah-rumah penduduk dalam kota nampak gemerlapan lampu hias berbentuk salip, lampion- indah, itu ikut merubah suasana kota Mamasa menjadi bermazmur, bersorak-sorai menyambut Injil, Suasana semaraknya pawai obor injil masuk Mamasa memang sangat berkesan. Melalui panitia, warga sepakat memperindah kota dengan lampu atau lampion dan lampi hias berbentuk salib di setiap rumah, Pesta kembang api dan petasan membuat kian smarak, langit yg biasanya hanya berhias bintang, malam itu berubah jadi terang oleh lampu hias dan kembang api. Dalam hatiku malam itu, dipenuhi rasa haru dan rasa syukur. Mungkin ini hanya sekali kuraskan dalam hidupku, aku beruntung bisa ada di sini dan memegang obor injil ini. 
Puji Tuhan, semoga kuasa Tuhan datang melawat daerah kami Mamasa, smoga  bisa tetap menjadi obor bagi injil kehidupan manusia dan masa depan negeri ini. Semoga semangat injil itu Jangan pernah padam seperti nyala obor malam itu. Itulah yg ada dalam kata hatiku malam itu. Suasana semakin marak malam itu, org semakin banyak memadati jalanan di dalam kota Mamasa. Baik yg bawa obor, maupun yg hanya menonton. Secara diam-diam, aku terus memandangi api obor yg kugenggam erat di tanganku. Aku seolah tak percaya, bisa berada di sini, di tengah ribuan Manusia lainnya yg bisa mensyukuri kehadiran injil di tanah peradaban bumi Kondospata Mamasa daerah kami. 

Memang saya sengaja mempersiapkan waktu untuk datang dari jauh, dari ufuk timur Nusantara, hanya untuk menggenggam dan menghayati makna obor 100 tahun injil masuk Mamasa (IMM). Dan akhirnya Obor Injil itu bisa kugapai dengan perjuangan yg melelahkan dan bisa bersinar terang di tanganku. Aku berharap dan berdoa, Tuhan menjadikan Tanganku selalu menjadi obor, hatiku menjadi terang seperti obor dan tetap abadi menerangi jalan sepanjang hidupku. Saya ingin obor itu terus menerangi hatiku untuk melihat jalan kebenaran dan kedamaian. Sambil memegang erat obor itu, aku terus melangkah bersama rekan-rekan yg juga datang dari jauh, dari perantauan. Jiwaku, perasaanku terasa menggapai kehangatan, kebahagian, kedamaian dan sukacita seperti yg terpancar dari api obor di tanganku. Dari senyuman dan dari semangatku malam itu memang terpancar sebuah sukacita yg tak ternilai.. Rasa haru tanpa kusadari mengundang air mata, sembari terus mengucap syukur di setiap langkah yg kuayunkan malam itu, ternyata mataku kelihatan sdh sembab. Terima kasih Tuhan, engkau membuka pikiranku dan menuntun aku sampai di sini. Walau aku jauh menyembrang lautan luas, melintasi samudera yg luas menembus angkasa. Tapi aku bisa hadir di sini memegang obor injil kehidupan sambil mengucap syukur. Hanya ucapan syukur yg terus kucapkan malam itu, haleluya, puji Tuhan. Mungkin inilah api yg terindah dan paling bermakna yg bisa kugenggam dlm hidupku, api obor yg kubawa berjalan mengintari kegelapan di kota dingin Mamasa kota kelahiranku tempat aku dibesarkan. Lihatlah senyumanku sangat meyakinkan, mungkin senyum termanis yg pernah aku lepas sepanjang hidupku. Itu melambangkan betapa tentram dan bahagianya hatiku bisa menggenggam obor Injil itu. Tak seorang pun yg tau, betapa bahagianya hatiku malam itu, hari Sabtu, 12 Oktober 2013. 
Sebuah kisah, kenangan kehidupan yg mengharukan hatiku melalui obor injil. Kulihat banyak org memegang obor, di depan, di belakang di sampingku, semuanya memegang obor. Aku tak tahu apakah mereka juga meraskan kehangatan api obor dalam jiwa mereka seperti yg kurasakan. Sejenak aku tertunduk di tengah teriakan yel-yel salam seratus lautan manusia pembawa obor. Aku tak tau apakah teriakan itu merupakan refleksi dan pancaran syukur, sukacita dan kebahagiaan mereka. Tapi aku pribadi dapat meraskan dan menghayati, sungguh sempurnanya kebahagian di hatiku malam itu. Air mata haru tak sanggup kubendung, obor injil itu tetap kugenggam kuat, seolah aku tak mau melepaskannya, hingga tiba di halaman "gereja batu" di Pak To'longan, obor itu tetap kugenggam erat di tanganku. Dari dalam kegereja yg sesak manusia, aku mendengar khotbah bahwa Injil inilah sumber kehidupan, injil itu adalah sumber terang dan sumber damai sejahtera bagi manusia, kita patut bersyukur kepada Tuhan, telah mengirim injil ke daerah kita. Tak kusadari menetes butiran air yg suci dari mataku, air mataku bergulir dan menetes di ujung sepatuku. Ini adalah salah satu tangis suci yg lahir dari perasaanku tanpa kusadari. Aku membayangkan betapa mulianya hati org-org yg telah berkorban, mempertaruhkan hidupnya demi Injil di daerah kami. Walau mereka kadang dicurigai, sebagai penjajah, sebagai tengkulak VOC, dimusuhi, dicaci, diolok-olok, di hina dan diusir, dibenci bahkan dibunuh, tapi demi mengajarkan injil, mereka tetap tegar, sabar, tabah dan penuh kasih menuntun tangan kita menulis, mengajar kita membaca, untuk mengerti injil, demi menyelamaatkan kita dari kegelapan dan penyembahan berhala untuk mengenal TUHAN. Waktu itu nenek moyang kita masih "bodoh", tak tau baca dan tak tau tulis. Mereka buta aksara dan masih menyembah pohon, menyembah batu dan memuja banyak "dewata" di tempat-tempat keramat, karena mereka pikir di sana ada Tuhan, di sana ada mujizat yg akan memberi kehidupan dan kedamaian. Tapi injil datang membebaskan mereka dari kebodohan, dari ketersestan dan dari tempat yg salah. Paling tidak, Itu yg aku lihat ada di dalam obor yg aku pegang hingga obor itu padam di tanganku. Walau obor itu telah padam karena kehabisan minyak, tapi dalam ingatanku, dalam jiwaku, obor itu takkan pernah padam. Dan akan kukenang sepanjang hayat hidupku. Akan kuceritakan kepada anak cucuku kelak, bagiaman hidup dalam injil, bagaimana perjuangan para penginjil meyakinkan kita dan mewariskan kita kehidupan yg benar. Hingga merekapun membawa obor 200 tahun Injil Masuk Mamasa. Mungkin saat itu tulang belulangkupun sdh jadi tanah. Tapi cerita obor 100 tahun yg silam akan dibaca jutaan umat 200 tahun akan datang. Tulisan kisah obor ini telah kukirim ke berbagai media online di Internet, semoga abadi sampai obor injil itu datang lagi. 

Kuharap, Jangan pernah lupakan injil, karena di sana ada terang, ada damai sejahtera dan ada sukacita. Semoga injil menjaga setiap sikap, pikiran, perbuatan dan langkah kita, langkah saudara-saudaraku, anakku semua dan mungkin cucuku dan keturunanku kelak. 

TUHAN..semoga api obor Injil itu tak pernah padam di negeri kami Mamasa, di hati kami dan di seluruh dunia...A M I N.


Oleh : Octovianus Danunan
Bagikan :

0 komentar :

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !



PASANG BANNER INI PADA BLOG ANDA

Copy Kode HTML di Bawah Ini

<a href="http://www.mamasaonline.com"><img border="0" src="http://pijarpustakamedia.com/mamasaonline480x320.gif" width="480" hight="320"/></a>

SAMBUTAN BUPATI MAMASA

Selamat dan sukses atas diluncurkannya portal berita www.mamasaonline.com semoga bisa menjadi media pemersatu dan sumber informasi serta media kontrol yang berimbang,obyektif serta inspiratif dalam rangka turut serta berperan aktif dalam upaya pembangunan Mamasa kedepan. Salam dari kami berdua, Ramlan Badawi dan Victor Paotonan (Bupati & Wakil Bupati Mamasa).

VIDEO

TWITTER

FB FANS PAGE

 
Support : Mamasa Online | Johny Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. mamasa online - All Rights Reserved
Template by Mamasa Online Published by Mamasa Online