Headlines News :
Home » » Menjalankan Mayat di Mamasa

Menjalankan Mayat di Mamasa

Written By Stepanus W B on Jumat, 11 Juni 2010 | 00.34


MO -- Bila Anda pernah berkunjung ke Mamasa, tak sulit sebenarnya memahami mengapa ada tradisi menjalankan mayat di Mamasa. Daerah ini bergunung-gunung, moda transportasi masih terbatas, bahkan kini setelah berdiri sebagai kabupaten tersendiri. Bertahun-tahun menjadi bagian dari Kabupatan Polmas, dengan ibu kota di Polewali, wilayah Mamasa nyaris tak tersentuh pembangunan. Hingga kini pun, kondisi infrastruktur jalanan di wilayah Mamasa masih cukup parah.


Beberapa tahun silam, saya berkunjung ke Mamasa untuk suatu prosesi Ziarah Bunda Maria di Pena. Wilayah ini termasuk magis juga, sehingga mendorong beberapa pastor membuat Gua Maria, sebagai salah satu strategi mengalihkan kebiasaan umat pada hal-hal magic. Sudah menjadi hal umum di Mamasa, orang-orang belajar ilmu magic, untuk mempertahankan diri. Misalnya ilmu kebal, ilmu bela diri, ilmu menjalankan binatang yang sudah mati, termasuk ilmu menjalankan mayat.

Saya bertemu seorang tokoh umat, Pak Petrus. Saya tanya soal cerita mayat berjalan. Ia tidak menyangkal bahwa bahkan sampai kini kemampuan membuat mayat berjalan itu masih ada, dan masih ada pawang (orang-orang yang memiliki kemampuan menjalankan mayat.
Ia cerita latar belakang mengapa tumbuh ilmu ini. Katanya, di masa lalu jarak antara pemukiman warga saling berjauhan. Selain itu ada juga kebiasaan berkebun di daerah-daerah yang jauh dari desa mereka. Nah ada saja orang yang jatuh sakit dan bahkan meninggal di lokasi kebun, atau di desa lain. Sementara, sudah menjadi tradisi mereka mengubur warga di desa tempat mereka tinggal menetap. Kondisi jalan jauh, kadang hanya jalan setapak, tentu menyulitkan menggotong mayat. Maka pilihannya membuat si mati berjalan seolah-olah masih hidup kembali ke rumahnya. Tentu ada syarat untuk prosesi ini. Mayat masih belum membusuk dan selagi berjalan tidak ada yang menegur. Sebab bila ditegur, seketika itu juga mayat akan rebah dan tak bakal bisa dihidupkan lagi.

Nah bila Anda ke Mamasa, jangan buru-buru menyapa dulu. Sebab boleh jadi orang yang Anda temui sebenarnya mayat yang tengah dibuat jalan sendiri.
Bagikan :

4 komentar :

  1. Terlalu naif kalau alasan beberapa pastor membuat gua Maria di Pena "sebagai salah satu strategi mengalihkan kebiasaan umat pada hal-hal magic". Tradisi gua maria sudah lama ada dalam Gereja. Kebetulan saja bahwa di daerah Polmas waktu itu belum ada tempat Ziarah semacam itu. Kecuali di SOppeng. Mengatakan juga bahwa beberapa pastor yang membuat gua Maria itu juga tidak tepat. Saya hadir ketika tempat ziarah di Pena dimulai..dan waktu itu dibuat oleh P. Alex Maitimo, Pr. paling paling dibantu oleh dua frater yang sedang Tahun Orientasi Pastoral.

    Soal tradisi mayat berjalan saya tidak akan mengatakan bahwa tidak pernah ada. Tapi saya tidak pernah melihatnya saya dibesarkan di daerah sana. umur saya sudah 44 tahun. Dan tidak pernah mendengar bahwa selama itu ada mayat berjalan kecuali mendengar cerita bahwa dulu begitu...Nara sumbernya, Pak Petrus apakah pernah melihatnya? ataukah hanya sebatas keyakinannya bahwa orang memiliki kemampuan itu?

    maka menurut saya, kalau berkunjung ke mamasa jangan segan menegur orang kalau bertemu meskipun tidak mengenal sekalipun karena itu adalah kebiasaan baik masyarakat di sana. Tidak usah takut akan menyapa mayat.

    BalasHapus
  2. Anonim, terima kasih tanggapan Anda. Di tahun 1998 saya mewawancara Pastor Alex Maitimo, Pr soal latar lokasi Ziarah Pena untuk laporan Tabloid Sejuk di Makassar. Yang menarik bahwa Sang Pastor mengaku mengalami banyak hal magic selama membangun lokasi Ziarah itu. Sekalipun sudah mentradisi dalam Gereja, keberadaan Pena tak terlepas dari strategi pewartaan dalam konteks masyarakat Mamasa.

    Pak Petrus, sama dengan orang-orang lain, tidak sama sekali menyebut "pernah melihat" mayat berjalan. Tetapi cerita soal mayat berjalan ini sesuatu yang biasa di kalangan warga Mamasa.

    salama'

    BalasHapus
  3. Saya kira memang alasan utama membuat gua Maria di Pena adalah untuk menghadirkan alternatif tempat Ziarah selain Soppeng. Kalau tidak salah, saya masih sekolah di smp atau sma saat tempat itu diresmikan dan ikut pula menjemput mobil bapak Uskup ke Mala'bo pakai sepeda motor saat itu. Untuk masalah Magic di mamasa sy kira itu sudah lewat waktunya dan sekarang lebih menjadi mitos yang hidup dalam masyarakat. Tentang keramahan warga Mamasapun sekarang sudah memudar, kalau dulu kita jalan kemana-mana maka orang yang kita temui; tua muda, kita kenal atau tidak kenal pasti akan menyapa: lu sau'ki, lu rekkeki, atau kita yang menyapa mereka tatkala mereka duduk-duduk di rumahnya; itin siamokoa le, sungguh gambaran masyarakat yang bersahabat, namun sekarang kebiasaan itu sudah sangat langkah.

    BalasHapus
  4. Sepakat bahwa Gua Maria Pena menjadi alternatif Ziarah Soppeng, sekalipun bukan untuk saling menggantikan. Selain dua lokasi itu, kita masih punya Gua Maria Rajawali di Makassar, Lilikira di Toraja Utara,serta Tumbang Datu di Sanggalla, Tana Toraja.

    Kalau membaca sejarah Gua Maria di mana pun di dunia, selalu ada cerita magis-nya. Lourdes menjadi demikian terkenal karena peristiwa penampakan Bunda Maria. Sendang Sono di Jateng, konon dahulu menjadi tempat pertapaan mereka yang lagi "ngelmu" lalu disulap menjadi lokasi Ziarah oleh romo-romo Jesuit. Lihat:http://id.wikipedia.org/wiki/Sendangsono

    BalasHapus



PASANG BANNER INI PADA BLOG ANDA

Copy Kode HTML di Bawah Ini

<a href="http://www.mamasaonline.com"><img border="0" src="http://pijarpustakamedia.com/mamasaonline480x320.gif" width="480" hight="320"/></a>

SAMBUTAN BUPATI MAMASA

Selamat dan sukses atas diluncurkannya portal berita www.mamasaonline.com semoga bisa menjadi media pemersatu dan sumber informasi serta media kontrol yang berimbang,obyektif serta inspiratif dalam rangka turut serta berperan aktif dalam upaya pembangunan Mamasa kedepan. Salam dari kami berdua, Ramlan Badawi dan Victor Paotonan (Bupati & Wakil Bupati Mamasa).

VIDEO

TWITTER

FB FANS PAGE

 
Support : Mamasa Online | Johny Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. mamasa online - All Rights Reserved
Template by Mamasa Online Published by Mamasa Online