Headlines News :
Home » » Kisah Mayor Lantang di Gandang Dewata Yang Misterius 3

Kisah Mayor Lantang di Gandang Dewata Yang Misterius 3

Written By Stepanus W B on Minggu, 08 November 2009 | 21.21

Gunung Perawan yang Keramat
MO -- Belum tampak aksi penebanga liar sebab warga Mamasa yang naik ke Gunung Ganda Dewata hanya mengambil rotan ataupun berburu.
Pohon besar berukuran kira-kira tiga orang dewasa berangkulan, masih sangat banyak ditemui. Nama Ganda Dewata sendiri konon lahir dari adanya sebuah batu yang berbentuk seperti gendang diatas gunung. Batu ini mengeluarkan gema ketika warga Mamasa menabuh gendang di desa saat prosesi ritual kematian. Jarak antara desa dengan tempat batu tersebut sangat jauh.
Gema dari batu menjadi informasi bagi warga yang sementara dihutan mengambil rotan atau berburu bahwa dibawa sana ada warga yang meninggal dunia. Karena suara batu itu tidak diketahui dari mana, orang Mamasa tempo dulu meyakini suara itu datang dari Dewa. Melekatlah nama gunung ini dengan sebutan Gandang Dewata.


Berbagai cerita mistik yang diungkapkan warga Mamasa akan hal-hal aneh yang terjadi tentang Gunung Gandang Dewata. Gunung dengan ketinggian 3.047 meter dari permukaan laut ini menyimpan cerita yang dapat membuat bulu kuduk berdiri. Belum ditemukannya Mayor Latang dan Rivai menambah kesan keramatnya Gandang Dewata.
jalur menuju Gandang Dewata hingga puncak pertama kali dirintis oleh warga setempat pada tahun 1963. selanjutnya pada tahun 1993, mapala dari salah satu pengurus tinggi di Yogyakarta melakukan pendakian. Sejak itu, mulailah dikenal istilah adanya pos 10 di gunung ini.
Kurang lebih 20 kelompok pencinta alam telah melakukan pendakian sampai kepuncak gunung. Setiap kali melakukan pendakian kelompok mahasiswa ditemani seorang penunjuk jalan dari warga Mamasa.
Untuk sampai kepuncak gunung, harus melewati 10 pos dengan kondisi medan yang sangat berat. Pendaki harus melintasi 9 gunung, yakni Gunung Lante Bobbok, parandangan, Pappandangan, Lantang Lomo, Lombok Silenda, Damak-damak, Penga, Naik Daeng dan terakhir Gandang Dewata.
Dari kota Mamasa ke pos 1 ditempuh perjalanan sekitar 4-5 jam. Sebelum tiba di pos satu, pendaki harus melintasi sungai Tetena. Setelah melewati pos 1 tidak ada lagi kebun warga. Seluruhnya adalah hutan rimba. Diantara pos 7 sampai pos 9, pendaki harus menggunakan tali karena terjalnya medan.
Dari pos 1 ke pos 4 dibutuhkan waktu perjalanan selama 2 hari. Dan dari pos 4 ke pos 10 di butuhkan waktu 4 hari. Dari pos 4 menuju pos 5, pendaki harus 6 kali menyeberangi sungai pano. Medan terberat berada antara pos 7 dan pos 9. selain medan terjal, cuaca juga sangat dingin. Di pos 7 suhu udara mencapai 13 derajat. Tim Ekspedisi Fajar Grup yang terdiri dari wartawan Harian Fajar Pare pos, Ujung Pandang Ekspres, Berikota dan Radar Sulbar, yang juga melakukan pencarian mengakui beratnya medan menuju Gandang Dewata. Tim Ekspedisi sempat menyisir dari pos 2 sampai pos 3.
“Saya sudah beberapa kali ke Gunung Bawakaraeng, dibandingkan dengan Gandang Dewata, Bawakaraeng tidak apa-apanya. Persiapan kesana harus ekstra matang baik fisik maupun peralatan,” kata Sili Suli, wartawan Ujung Pandang Ekspres. (www.polewalimandarkab.go.id)
Bagikan :

1 komentar :



PASANG BANNER INI PADA BLOG ANDA

Copy Kode HTML di Bawah Ini

<a href="http://www.mamasaonline.com"><img border="0" src="http://pijarpustakamedia.com/mamasaonline480x320.gif" width="480" hight="320"/></a>

SAMBUTAN BUPATI MAMASA

Selamat dan sukses atas diluncurkannya portal berita www.mamasaonline.com semoga bisa menjadi media pemersatu dan sumber informasi serta media kontrol yang berimbang,obyektif serta inspiratif dalam rangka turut serta berperan aktif dalam upaya pembangunan Mamasa kedepan. Salam dari kami berdua, Ramlan Badawi dan Victor Paotonan (Bupati & Wakil Bupati Mamasa).

VIDEO

TWITTER

FB FANS PAGE

 
Support : Mamasa Online | Johny Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. mamasa online - All Rights Reserved
Template by Mamasa Online Published by Mamasa Online